Rabu, 28 September 2011

PENELITIAN AUTEKOLOGI AUTEKOLOGI PURNAJIWA (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. (FABACEAE) DI SEBAGIAN KAWASAN HUTAN BUKIT TAPAK CAGAR ALAM BATUKAHU BALI

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/artikel%20sutomo.pdf 


Purnajiwa ditemukan pada tempat yang ternaungi diantaranya adalah di bawah pohon Laportea sp., Ficus sp., Syzygium zollingerianum, dan Sauraria sp. Dengan intensitas penyinaran antara 55-65%. Tumbuh pada kemiringan tanah antara 20-55 % serta ketebalan seresah 3-7 cm dengan pH tanah berkisar antara 6,7- 6,8. Sebanyak 16 jenis tumbuhan bawah hidup bersama purnajiwa diantaranya yang cukup dominan adalah Diplazium proliferum (INP = 54,6) dan Oplismenus compositus L. (INP = 40). Melestarikan organisme di habitat alaminya adalah best practice jika memungkinkan akan tetapi situasi terus berubah dengan semakin nyatanya perubahan iklim serta meningkatnya aktivitas manusia di kawasan hutan untuk mencari berbagai hasil hutan seperti untuk kayu bakar, humus, tumbuhan anggrek, paku dan juga termasuk purnajiwa untuk tujuan komersil sehingga mengancam keberadaan jenis ini di alam. Dalam kasus seperti ini, konservasi secara ex situ harus mulai diterapkan, sehingga jumlah maksimal variasi genetik pada jenis yang masih ada bisa diselamatkan dan memberikan kesempatan untuk bertahan hidup. Populasi purnajiwa di sebagian kawasan hutan Bukit Tapak secara umum masih cukup baik, namun intensitas masyarakat memasuki kawasan hutan ini harus menjadi perhatian apabila menghendaki kelestarian biodiversitas tumbuhan pegunungan, termasuk jenis purnajiwa ini. Kegiatan konservasi exsitu disarankan menjadi salah satu alternatif solusi untuk menyelamatkan populasi purnajiwa.
 Jadi  penelitian autokelogi hanya terdapat 1 (satu) spesies dengan lingkungannya.


usya_bio@yahoo.com

PENELITIAN SINOKELOGI Struktur Komunitas Hymenoptera Parasitoid Pada Berbagai Lanskap Pertanian Di Sumatra Barat

http://pei-pusat.org/jurnal/wp-content/uploads/2011/06/Struktur-Komunitas-Hymenoptera.pdf 


Dari hasil penelitian ini total jumlah Hymenoptera parasitoid  yang telah dikoleksi adalah 1552individu, 22 famili, dan 148 spesies. Kelimpahan, jumlah spesies, dan famili yang dikoleksi pada ekosistem sayuran polikultur lebih tinggi daripada ekosistem sayuran dan padi monokuler. Famili Braconidae dan Ichneumonidae adalah famili Hymenoptera parasitoid yang dominan baik pada ekosistem sayuran monokultur maupun polikultur, sedangkan pada eksosistem padi monokultur yang dominan adalah Mymaridae, Diapriidae, danmonokultur maupun polikultur, sedangkan pada eksosistem padi monokultur yang  dominan adalah Mymaridae, Diapriidae, dan Eulophidae. Kekayaan spesies yang telah dikoleksi pada ekosistem sayuran polikultur, sayuran dan padi monokultur telah mencapai 60% lebih berdasarkan Jacknife-1 estimator, dan Dari tiga metode koleksi yang digunakan dalam penelitian ini, metode farmcop dan nampan kuning paling efektif untuk mengoleksi Hymenoptera parasitoid. Eulophidae. kekayaan spesies yang telah dikoleksi pada ekosistem sayuran
Jadi penelitian sinokelogi banyak spesies di suatu lingkungan 

usya_bio@yahoo.com

Perbedaan AUTEKOLOGI dan SINEKOLOGI

Di dalam ekologi hutan ada dua bidang kajian, yaitu : Autekologi dan Sinekologi.
(1) Autekologi, yaitu ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh autekologi misalnya mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap lingkungan. Jadi, jika kita mempelajari hubungan antara pohon Pinus merkusii dengan lingkungannya, maka itu termasuk autekologi. Contoh lain adalah mempelajari kemampuan adaptasi pohon merbau (Intsia palembanica) di padang alang-alang, dan lain sebagainya.

(2) Sinekologi, yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Misalnya mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya.

Autekologi Sinekologi


Gambar  Bidang Kajian Ekologi Hutan


Dari segi autekologi, maka di hutan bisa dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis pohon yang sifat kajiannya mendekati fisiologi tumbuhan, dapat juga dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis binatang liar atau margasatwa. Bahkan dalam autekologi dapat dipelajari pola perilaku suatu jenis binatang liar, sifat adaptasi suatu jenis binatang liar, maupun sifat adaptasi suatu jenis pohon. Dari segi sinekologi, dapat dipelajari berbagai kelompok jenis tumbuhan sebagai suatu komunitas, misalnya mempelajari pengaruh keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi dan struktur vegetasi, atau terhadap produksi hutan. Dalam ekosistem hutan itu bisa juga dipelajari pengaruh berbagai faktor ekologi terhadap kondisi populasi, baik populasi tumbuhan maupun populasi binatang liar yang ada di dalamnya. Akan tetapi pada prinsipnya dalam ekologi hutan, kajian dari kedua segi (autekologi dan sinekologi) itu sangat penting karena pengetahuan tentang hutan secara keseluruhan mencakup pengetahuan semua komponen pembentuk hutan, sehingga kajian ini diperlukan dalam pengelolaan sumber daya hutan.

Perbedaan AOTOKELOGI dan SINOKELOGI

Selasa, 27 September 2011

Berdasarkan Keilmuan Ekologi

 Pengertian Autekologi dan Sinekologi
Ekologi dibagi atas dua kelompok yaitu autekologi, dan sinekologi. Autekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara satu individu atau satu spesies dengan alam lingkunganya. Sinekologi ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara beberapa grup individu yang berasosiasi bersama-sama sebagai satu unit dengan alam lingkungannya. Ekologi juga dapat dibagi berdasarkan jenis lingkungan atau habitatnya, yaitu Ekologi Lautan, Ekologi Air Tawar, Ekologi Daratan, Ekologi Hutan, dan sebagainya. Tanpa memperhatikan apakah termasuk autekologi atau sinekologi berdasarkan level organisma Ekologi juga dapat dibagi atas Ekologi Populasi, Ekologi Komonitas, dan Ekologi Ekosistem Pendekatan kajianpun sangat tergantung kepada permasalahan apakah bersifat autekologi atau sinetologi, dan juga apakah menyangkut masalah produktivitas atau hubungan sebab akibat. Pakar autekologi biasanya memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari suatu species tumbuhan, sedangkan pakar senitologi berkepentingan dengan komunitas yaitu problema yang dihadapi sehubungan dengan keterkaitan antara alam dengan variasi vegetasi.

Kehutanan memerlukan penelaahan tentang komposisi spesies tumbuhan sebagai penunjuk (indicator) potensi dari tapak sebagai bahan bantu dalam menentukan jenis kayu yang ditanam. Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tumbuh – tumbuhan yang hidup bersama dialam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan fungsi sifat – sifatnya yang mengkarekterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fisiognomi.
Metode dengan pendekatan secara fisignomi tidak memerlukan identifikasi dari species dan sering lebih berarti hasilnya untuk gambaran vegetasi dengan skala kecil (area yang luas),atau untuk gambaran habitat bagi disiplin ilmu lainnya.misalnya pakar hewan menghendaki deskripsi vegetasi yang dapat dipakai untuk menggambarkan relung atau nisia,habitat dan sumber pakan untuk hewan.
Metode berdasarkan komposisi atau floristika species lebih bermanfaat untuk menggambarkan vegetasi dengan skala besar ( area yang sempit )yang lebih detail,yang biasannya dipergunakan oleh pakar di Eropa daratan dalam klasifikasi vegtasi dan pemetaan pada skala yang besar dan sangat rinci.



file:///C:/Users/Ultimate/Documents/pendekatan-pendekatan-dalam-ekologi.html